KATA PENGANTAR
Segala puja dan puji syukur atas kehadirat Sang Creator Maha Agung Allah SWT, karena hanya izin dan kuasa-Nyalah sehingga penulisan Makalah “Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif” dapat terselesaikan, beserta embrio-embrio mutakhir-Nya, para Rasul-rasul-Nya. Tak lupa pula shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad s.a.w, beserta seluruh keluarganya, sahabatnya dan umatnya sampai akhir jaman.
Pendidikan akan sangat berperan penting dalam pembangunan bangsa Indonesia ke depan, oleh karena itu lembaga pendidikan baik yang formal maupun yang informal, akan menjadi tonggak dan turut berperan serta dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.
Pendidikan merupakan suatu proses yang utama dalam kehidupan umat manusia. Dalam agama, menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban, dan kita dituntut untuk menuntut ilmu sampai akhir hayat. Dalam tatanan negara, Indonesia sebagai negara yang berkembang juga menempatkan pendidikan dalam tujuan negara. Hal ini tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dimana salah satu tujuan negara adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dosen pengajar peda mata kuliah “Metodologi Penilitian”.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak sedikit hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi dalam menyelesaikan makalah ini. Namun berkat ketekunan dan bantuan dari semua pihak akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.
Gorontalo, 16 Juni 2010
Abdhy Gunawan M. A
1.1. Pengertian Variabel
Fenomena yang dihadapi mahasiswa sebelum melaksanakan penelitian biasanya berkenaan dengan pertanyaan tentang variabel. Karena tanpa jawaban pasti tentang variabel, penelitian yang dilakukan mahasiswa akan mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi yang akan digunakan untuk mengambil kesimpulan.
Kalau ada pertanyaan tentang apa yang anda teliti, maka jawabannya berkenaan dengan variabel penelitian. Jadi variabel penelitian pada dasamya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.
Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau obyek, yang mempunyai "variasi" antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain (Hatch dan Farhady, 1981). Variabel juga dapat merupakan atribut dari bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, merupakan atribut-atribut dari setiap orang. Berat, ukuran, bentuk, dan warna merupakan atribut-atribut dari obyek. Struktur organisasi, model pendelegasian, kepemimpinan, pengawasan, koordinasi, prosedur dan mekanisme kerja, deskripsi pekerjaan, kebijakan, adalah merupakan contoh variabel dalam kegiatan administrasi.
Dinamakan variabel karena ada variasinya. Misalnya berat badan dapat dikatakan variabel, karena berat badan sekelompok orang itu bervariasi antara satu orang dengan yang lain. Demikian juga motivasi, persepsi dapat juga dikatakan sebagai variabel karena misalnya persepsi dari sekelompok orang tentu bervariasi. Jadi kalau peneliti akan memilih variabel penelitian, baik yang dimiliki orang obyek, maupun bidang kegiatan dan keilmuan tertentu, maka harus ada variasinya. Variabel yang tidak ada variasinya bukan dikatakan sebagai variabel. Untuk dapat bervariasi, maka penelitian harus didasarkan pada sekelompok sumber data atau obyek yang bervariasi.
Kerlinger (1973) menyatakan bahwa variabel adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari. Diberikan contoh misalnya, tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikan, status sosial, jenis kelamin, golongan gaji, produktivitas kerja, dan lain-lain. Di bagian lain Kerlinger menyatakan bahwa variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values). Dengan demikian variabel itu merupakan suatu yang bervariasi. Selanjutnya Kidder (1981), menyatakan bahwa variabel adalah suatu kualitas (qualities) dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat dirumuskan di sini bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain. Pengertian lain bahwa variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep tertentu. Pengukuran variabel adalah proses menentukan jumlah atau intensitas informasi mengenai orang, peristiwa, gagasan, dan atau obyek tertentu serta hubungannya dengan masalah atau peluang bisnis. Dengan kata lain, menggunakan proses pengukuran yaitu dengan menetapkan angka atau tabel terhadap karakteristik atau atribut dari suatu obyek, atau setiap jenis fenomena atau peristiwa yang mengunakan aturan-aturan tertentu yang menunjukkan jumlah dan atau kualitas dari faktor-faktor yang diteliti.
Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai (Moh. Nazir). Dengan demikian, variabel adalah merupakan objek yang berbentuk apa saja yang ditentukan oleh peneliti dengan tujuan untuk memperoleh informasi agar bisa ditarik suatu kesimpulan. Secara teori, definisi variabel penelitian adalah merupakan suatu objek, atau sifat, atau atribut atau nilai dari orang, atau kegiatan yang mempunyai bermacam-macam variasi antara satu dengan lainnya yang ditetapkan oleh peneliti dengan tujuan untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.
Variabel penelitian adalah objek yang berbentuk apa saja yang ditentukan oleh peneliti untuk dicari informasinya dengan tujuan untuk ditarik suatu kesimpulan. Akan tetapi secara teori, definisi variabel penelitian adalah merupakan suatu obyek, atau sifat, atau atribut atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai bermacam-macam variasi antara satu dengan lainnya yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Misalnya saja mahasiswa. Kalau kita berbicara tentang mahasiswa saja, hal ini belum bisa dikatakan variabel. Karena mahasiswa saja hanya merupakan sebuah konsep. Akan tetapi kalau kita sudah berbicara tentang Mahasiswa Fakultas MIPA, Mahasiswa Fakultas Teknik, Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan, artinya kita sudah membicarakan variabel. Karena mahasiswa Fakultas MIPA, Teknik, dan Ilmu Pendidikan merupakan konsep yang memiliki bermacam-macam variasi. Atau jika kita membicarakan tentang badan. Hal ini belum bisa dikatakan variabel. Karena badan saja hanya merupakan sebuah konsep. Akan tetapi sebaliknya, kalau kita sudah berbicara tentang tinggi badan mahasiswa, jenis kelamin mahasiswa, atau berat badan mahasiswa, atau aktivitas mahasiswa, berarti kita sudah berbicara tentang variabel. Karena tinggi badan, jenis kelamin, berat badan dan motivasi mahasiswa memiliki bermacam-macam variasi.
Untuk kepentingan penelitian, konsep bisa diubah menjadi variabel. Hal itu kita lakukan dengan cara memusatkan perhatian terhadap karakteristi-karakteristik dari variabel itu sendiri. Misalnya saja konsep tentang konsumsi, bisa diubah menjadi variabel makanan ringan, makanan berlemak, makanan berserat, dan lain-lain.
Akan tetapi konsep-konsep sosial yang sudah diterjemahkan menjadi satuan yang sudah kita anggap lebih operasional itu, variabel dan konstruk (construct), biasanya belum sepenuhnya siap untuk diukur. Karena variabel dan konstruk sosial memiliki alternatif dimensi yang bisa diukur dengan cara berlainan. Definisi operasional adalah aspek penelitian yang memberikan informasi kepada kita tentang bagaimana caranya mengukur variabel.
Definisi operasional adalah semacam petunjuk kepada kita tentang bagimana caranya mengukur suatu variabel. Definisi operasional merupakan informasi ilmiah yang sangat membantu peneliti lain yang ingin melakukan penelitian dengan menggunakan variabel yang sama. Karena berdasarkan informasi itu, ia akan mengetahui bagaimana caranya melakukan pengukuran terhadap variabel yang dibangun berdasarkan konsep yang sama. Dengan demikian ia dapat menentukan apakah tetap menggunakan prosedur pengukuran yang sama atau diperlukan pengukuran yang baru.
1.2. Jenis-jenis Variabel Dalam Penelitian
Setelah kita membicarakan beberapa pengertian dasar tentang variabel, berikut ini kita akan membicarakan beberapa macam variabel ditinjau dari aspek hubungan antar variabel yang digunakan untuk penelitian. Partama adalah variabel dependen (terikat). Variabel ini merupakan variabel terikat yang besarannya tergantung dari besaran variabel independen (bebas). Besarnya perubahan yang disebabkan oleh variabel independen ini, akan memberi peluang terhadap perubahan variabel dependen (terikat) sebesar koefisien (besaran) perubahan dalam variabel independen. Artinya, setiap terjadi perubahan sekian kali satuan variabel independen, diharapkan akan menyebakan variabel dependen berubah sekian satuan juga. Sebaliknya jika terjadi perubahan (penurunan) variabel independen (bebas) sekian satuan, diharapkan akan menyebabkan perubahan (penurunan) variabel dependen sebesar sekian satuan juga.
Hubungan antar variabel, yakni variabel independen dan dependen, biasanya ditulis dapal bentuk persamaan, Y = a + bX. Misalnya bentuk persamaan linear Y = 3 + 2X. Y adalah pengguaan Pupuk dalam satua Kwintal, dan Y adalah hasil produksi padi dalam satuan Ton. Bila terjadi perubahan X sebesar 1 ((satu) satuan (kwintal), diharapkan akan terjadi perubahan Y sebesar 2 (dua) satuan Ton.
a. Variabel Bebas (Independen Variable)
Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel bebas biasanya dimanipulasi, diamati, dan diukur untuk diketahui hubungannya (pengaruhnya) dengan variabel lain. Dalam ilmu tingkah laku, variabel bebas biasanya merupakan stimulus atau input yang beroperasi dalam diri seseorang atau di dalam lingkungannya untuk mempengaruhi tingkah laku.
b. Variabel Terikat (Dependen Variable)
Variabel ini sering disebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. variabel respon atau output. Sebagai variabel respon berarti variabel ini akan muncul sebagai akibat dari manipulasi suatu variabel-variabel yang dimanipulasikan dalam penelitian, yang disebut sebagai variabel bebas (Kerlinger, 1979). Dalam ilmu tingkah laku, variabel terikat adalah aspek tingkah laku yang diamati dari suatu organisme yang telah dikenai stimulus. Dengan kata lain, variabel terikat adalah faktor yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya pengaruh dari variabel bebas.
c. Variabel Moderator
Variabel moderator adalah sebuah tipe khusus variabel bebas, yaitu variabel bebas sekunder yang diangkat untuk menentukan apakah ia mempengaruhi hubungan antara variabel bebas primer dan variabel terikat (Best, 1977; Tuckman, 1978). Variabel moderator adalah faktor yang diukur, dimanipulasi atau dipilih peneliti untuk mengungkap apakah faktor tersebut mengubah hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Jika peneliti ingin mempelajari pengaruh variabel bebas X terhadap variabel terikat Y tetapi ragu-ragu apakah hubungan antara X clan Y tersebut berubah karena variabel Z, maka Z dapat dianalisis sebagai variabel moderator.
Variabel Moderator adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel independen dengan dependen. Variabel disebut juga sebagai variabel independen ke dua. Hubungan perilaku suami dan isteri akan semakin baik (kuat) kalau mempunyai anak, dan akan semakin renggang kalau ada pihak ke tiga ikut mencampuri. Di sini anak adalah sebagai variabel moderator yang memperkuat hubungan, dan pihak ke tiga adalah sebagai variabel moderator yang memperlemah hubungan. Hubungan motivasi dan produktivitas kerja akan semakin kuat bila peranan pemimpin dalam menciptakan ikiim kerja sangat baik, dan hubungan semakin rendah bila peranan pemimpin kurang baik dalam menciptakan ikiim kerja.
Analisis hubungan yang menggunakan minimal dua variabel, yakni satu variabel dependen dan satu atau beberapa variabel independen, adakalanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model staistik yang kita gunakan. Dalam analisis statistik ada yang dikenal dengan variabel moderator. Variabel moderator ini adalah variabel yang selain bisa memperkuat hubungan antar variabel, dilain pihak juga bisa memperlemah hubungan antara satu atau beberapavariabel independen dan variabel dependen. Misalnya pelatihan yang diikuti karyawan sebuah perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan ketrampilan menyelesaikan tugas-tugas administrasi. Seluruh karyawan yang mengikuti pelatihan tersebut memiliki jenjang pendidikan yang sama. Tetapi setelah selesai mengikuti pelatihan dan dilakukan uji keterampilan, ternyata kemampuan karyawan yang berasal dari Sekolah Kejuruan, memiliki keterampilan yang lebih baik dibandingkan dengan karyawan yang berasal dari Sekolah Umum. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan kemampuan menyerap materi yang disampaikan ketika melaksanakan pelatihan.
Kondisi ini bisa saja terjadi karena ada variabel moderator yang bisa menyebabkan karyawan yang berasal dari Sekolah Umum memiliki motivasi yang lebih rendah untuk mengikuti pelatihan jika dibandingkan dengan Karyawan yang berasal dari sekolah Kejuruan. Dalam contoh di atas pelatihan adalah variabel independen, prestasi kerja adalah variabel dependen, dan motivasi untuk mengikuti pelatihan adalah variabel moderator. Atau dengan kata lain, variabel moderator memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kemampuan variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen.
d. Variabel Intervening.
Apabila suatu variabel yang ingin diketahui pengaruhnya terhadap variabel terikat ternyata tidak dapat diamati (diukur) karena terlalu abstrak, maka variabel tersebut biasanya dipandang sebagai variabel antara (intervening). Jadi variabel antara adalah faktor yang secara teoretik mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat tetapi tidak dapat dilihat sehingga tidak dapat diukur atau dimanipulasi.
Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang terletak di antara variabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.
Variabel intervening dalam hal ini Tuckman (1988) menyatakan "An intervening variable is that factor that theoretically affect the observed phenomenon but cannot be seen, measure, or manipulate". Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang terletak di antara variabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau-timbulnya variabel dependen.
Dalam setiap penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa, biasanya menemukan variabel yang bisa memperkuat atau memperlemah hubungan antar variabel (variabel moderator) yang sedang diukur. Secara teori setiap variabel memang ada dan memiliki satuan ukur. Akan tetapi variabel ada sebagian variabel yang nilainya secara satuan relatif tidak dapat diukur secara pasti, misalnyakecewa, gembira, sakit hati, stress, frustasi dan sebagainya. Variabel seperti itu dinamakan variabel variabel intervening. Contoh: meningkatnya hasil produksi padi dalam suatu lahan sawah yang diukur dengan satuan penggunaan biaya pupuk tinggi, biaya pembelian bibit padi tinggi, dan pengairan yang baik, tetap tidak mengalami peningkatan hasil produksi padi secara signifikan. Kemudian setelah diteliti secara seksama, ternyata sebagian besar lahan sawah sedang terserang hama tikus.
e. Variabel Kontrol
Tidak semua variabel di dalam suatu penelitian dapat dipelajari sekaligus dalam waktu yang sama. Beberapa di antara variabel tersebut harus dinetralkan pengaruhnya untuk menjamin agar variabel yang dimaksud tidak mengganggu hubungan antara variabel bebas clan variabel terikat. Variabel-variabel yang pengaruhnya harus dinetralkan atau dikontrol tersebut disebut variabel-variabel kontrol. Jadi, variabel kontrol adalah faktor-faktor yang dikontrol atau dinetralkan pengaruhnya oleh peneliti karena jika tidak demikian diduga ikut mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Variabel kontrol berbeda dengan variabel moderator.
Jadi variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh variabel indepeden terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel kontrol sering digunakan oleh peneliti, bila akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.
Variabel yang sering digunakan dalam penelitian mahasiswa, selain variabel moderator dan variabel intervening adalah variabel kontrol. Variabel ini (kontrol), kualitas dan kuantitasnya bisa dikendalikan oleh peneliti sesuai dengan waktu dan tempat yang dikehendaki. Misalnya saja produktivitas lahan sawah sebagai variabel tak bebas yang diukur dengan satuan penggunaan bibit sebagai variabel. Peneliti menggunakan variabel kontrol dalam bentuk penggunaan pupuk, tentunya dalam kualitas dan kuantitas yang sama, akan tetapi penggunaan bibit sebagai bariabel bebas, kualitas dan kuantitas berbeda. Kualitas dan kuantitas bibit padi sebagai variabel bebas diukur dalam satuan kg, sedangkan produktivitas lahan sawah merupakan variabel tak bebas yang diukur dalam satuan ton.
1.3. Variabel Sebagai Objek Penelitian
Apabila seorang peneliti ingin menyelidiki apakah benar bahwa susu menyebabkan badan menjadi gemuk, maka yang menjadi objek penelitiannya adaiah susu dan berat badan orang. Maka susu dan berat badan merupakan variabel penelitian.
Dalam penelitian seperti ini, sebaiknya peneliti menggunakan pendekatan eksperimen. Kelompok eksperimen adaiah orang-orang yang minum susu, sedangkan keiompok kontrol atau kelompok pembanding adalah orang-orang yang tidak diberi minum susu. Banyaknya susu yang diberikan kepada kelompok eksperimen ditakar dengan ukuran liter, maka variabelnya berbentuk variabel kontinum. Sedangkan tambah-tidaknya berat badan, diukur dengan ukuran kilogram, variabelnya juga variabel kontinum (ratio).
Peneliti lain ingin menyelidiki besamya kesadaran bermasyarakat bagi orang-orang yang mendapat pendapat P4. Dalam hal ini maka nilai penataran P4 dan kesadaran bermasyarakat merupakan variabel penelitian. Baik nilai penataran P4 maupun kesadaran bermasyarakat dapatdiukur, digambarkan dalam bentuk angka dan dikategorikan sebagai variabel interval.
Dari kedua contoh penelitian ini, kita tahu bahwa kesamaannya, yaitu sama-sama melihat pengaruh sesuatu treatment, maka ada variabel yang mempengaruhi dan variabel akibat. Variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas atau independent variable (X), sedangkan variabel akibat disebut variabel tidak bebas variabel tergantung, variabel terikatatau dependent variable (Y).
Dalam penelitian I, susu merupakan variabel bebas dan berat badan merupakan variabel akibat. Sedangkan dalam penelitian II, nilai penataran P4 merupakan variabel bebas dan kesadaran bermasyarakat merupakan variabel terikat. Sehubungan dengan variabel dalam eksperimen ini, Fred N. Kerlingert berpendapat:
All experiments have one fundamental idea behind them: to test the effect of one or more independent variables on a dependent variable (it is possible to have more than one dependent variable in experiments).
Dalam contoh dua penelitian di atas, susu dan penataran P4 sebagai independent variables merupakan variabel tunggal. Demikian pula berat badan dan kesadaran bermasyarakat, keduanya merupakan variabel tunggal. Sebagai contoh eksperimen yang lebih dari satu variabelnya adaiah sebagai berikut:
Independent variable lebih dari satu.
“Pengaruh Lingkungan Belajar Terhadap Prestasi Belajar Murid”
Dalam hal ini variabel lingkungan beiajar diartikan terdiri dari lingkungan befajardi rumah sebagai satu variabel atau sub-variabel dan lingkungan belajardi sekolah sebagai variabel (sub-variabel) lain. Barangkali kalau akan lebih teliti lagi kita dapat rnempeihatikan lingkungan belajar di masyarakat atau pergaulan sebagai variabel (sub-variabel) ketiga. Apabila demikian, maka variabel sebagai konsep dapat dimengerti sebagai sesuatu yang mempunyai nilai luas (ganda) maupun sempit (tunggal). Seperti halnya susu dan penataran P4, kelihatannya merupakan variabel yang bernilai tunggal Tetapi lingkungan belajar merupakan variabel yang berniiai luas atau ganda.
Menurut pendapat Kerlingert selanjutnya tentang variabel:
It is posible, by definition, for a variable to have only one value. It is then called a constant. We deal almost exclucively with variables that have two or more values.
Berikut ini adalah contoh eksperimen dengan variabel terikat febih dari satu.
Pengaruh frekuensi mengikuti praktikum terhadap kemampuan mengajar. Yang menjadi variabe! terikat di dalam penelitian ini adalah kemampuan mengajar, yang nilainya diperinci atas: kemampuan membuat persiapan tertutis dan kemampuan mengajar di depan kelas. Jadi, secara terpisah adadua variabel. Apabila dikehendaki lebih teliti, kemampuan mengajar di depan kelas dapat diperinci lagi menjadi kemampuan membuka pelajaran, mengajarkan materi dalam inti mengajar, menutup pelajaran, kemampuan menggunakan alat, kemampuan mengelola kelas, mengevaluasi murid dan sebagainya.
Dari pengalaman mengajar dan membimbing mahasiswa, penulis mendapat kesan bahwa sukar sekali bagi sebagian para mahasiswa tersebut menentukan variabel. Sebagai contoh dari judul penelitian di atas, yakni:
"Pengaruh Frekuensi Mengikuti Praktikum Terhadap Kemampuan Mengajar" Penulis menjumpai kesalahan-kesalahan yang ditentukan sebagai variabel, antara lain:
* Pengaruh frekuensi,
* Mengikuti praktikum,
* Praktikum,
* Terhadap kemampuan mengajar,
* Mengajar,
* dan sebagainya.
Dari gambaran ini rupanya belum terungkap apa yang dimaksud dengan objek penelitian, yang diamati oleh peneliti atau variabel penelitian tersebut.
2. Macam-macam Skala Pengukuran
Dapat tidaknya suatu prosedur analisis statistik diterapkan untuk mengolah dan menganalisis hasil pengukuran, tergantung juga dari jenis skala pengukuran yang digunakan. Berbagai skala pengukuran dapat dikelompokkan ke dalam empat tingkatan, yaitu: skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala rasio. Keempat skala pengukuran tersebut memiliki tingkat penggunaan yang berbeda dalam riset penelitian.
* Skala nominal hanya bisa membedakan sesuatu yang bersifat kualitatif (misalnya: jenis kelamin, agama, warna kulit). Skala yang memungkinkan peneliti mengelompokkan subyek kedalam katagori atau kelompok.
Misalkan gender responden dapat dikelompokkan dalam 2 katagori : Pria dan wanita. Skala gender dapat dinyatakan dalam angka : Pria = 1 dan Wanita = 2. Skala Nominal bersifat mutualy exlusive dan masing-masing anggota himpunan tersebut tidak ada perbedaan nilai.
* Skala ordinal selain membedakan juga menunjukkan tingkatan (misalnya: pendidikan, tingkat kepuasan). Skala Ordinal tidak hanya menyatakan kategori tapi juga menyatakan peringkat kategori tersebut. Skala Ordinal menjawab atas suatu pertanyaan, responden diminta untuk memberikan urutan alternatif jawaban yang paling sesuai. Contoh: rangking jawaban yang dibuat berdasarkan preferensi Responden.
1. Senang sekali, 2. Senang, 3. Kurang senang, 4. Kurang senang sekali.
(beda antara dua titik tidak dapat diukur).
* Skala interval berupa angka kuantitatif namun tidak memiliki nilai nol mutlak (misalnya: tahun, suhu dalam Celcius). Skala Interval memungkinkan mengukur beda antara dua titik dalam skala, menghitung means dan standar deviasi data.
Contoh : Jarak waktu jam.08.00 – 10.00 adalah sama dengan jarak waktu 16.00 – 18.00. Tetapi kita tidak dapat menyatakan bahwa jam.16.00 dua kali lebih lambat dibandingkan jam.08.00.
* Skala rasio berupa angka kuantitatif yang memiliki nilai nol mutlak. Skala Rasio merupakan kedudukan data yang tertinggi, dimana memiliki nilai nol yang orisinal. Contoh: Jika aset perusahaan A sebanyak Rp. 10 Milyar dan aset perusahaan B sebanyak Rp. 5 Milyar, maka rasio A & B adalah 2 : 1.
Definisi :
a. Skala Nominal
Jika angka-angka dalam rentangan skala pengukuran hanya berfungsi sebagai pengganti nama (label) atau kategori, tidak menunjukkan suatu kuantitas, maka skala pengukurannya disebut nominal.
Skala pengukuran nominal digunakan untuk mengklasifikasikan obyek, individual atau kelompok; sebagai contoh mengklasifikasi jenis kelamin, agama, pekerjaan, dan area geografis. Dalam mengidentifikasi hal-hal di atas digunakan angka-angka sebagai symbol. Apabila kita menggunakan skala pengukuran nominal, maka statistik non-parametrik digunakan untuk menganalisa datanya. Hasil analisa dipresentasikan dalam bentuk persentase. Sebagai contoh kita mengklaisfikasi variable jenis kelamin menjadi sebagai berikut: laki-laki kita beri simbol angka 1 dan wanita angka 2. Kita tidak dapat melakukan operasi arimatika dengan angka-angka tersebut, karena angka-angka tersebut hanya menunjukkan keberadaan atau ketidakadanya karaktersitik tertentu.
Contoh: Jawaban pertanyaan berupa dua pilihan “ya” dan “tidak” yang bersifat kategorikal dapat diberi symbol angka-angka sebagai berikut: jawaban “ya” diberi angka 1 dan tidak diberi angka 2.
b. Skala Ordinal
Jika angka-angka dalam rentangan skala pengukuran tidak hanya menunjukkan kategori-kategori, tetapi juga menunjukkan hubungan kuantitas tertentu, yakni gradasi, maka skala pengukurannya disebut ordinal. Dalam skala ordinal, Sekelompok subjek disusun berturut-turut mulai dari yang paling tinggi (besar, kuat, baik) sampai kepada yang paling rendah (kecil, lemah, jelek) dalam hal atribut yang diukur.
Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh obyek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu obyek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.
Contoh: Jawaban pertanyaan berupa peringkat misalnya: sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju dan sangat setuju dapat diberi symbol angka 1, 2,3,4 dan 5. Angka-angka ini hanya merupakan simbol peringkat, tidak mengekspresikan jumlah.
c. Skala Interval
Jika angka-angka dalam skala pengukuran tidak hanya menunjukkan hubungan kuantitatif dalam gradasi (ranking) tetapi juga menunjukkan bahwa jarak atau perbedaan kuantitas antar dua angka yang berurutan selalu sama, maka skala pengukurannya disebut interval. Dalam skala interval angka-angka ranking (rank-order) ditetapkan berdasarkan atribut yang diukur, jarak atau perbedaan kuantitas antar angka-angka yang berurutan selalu sama, tidak ada kepastian tentang kuantitas absolut, sehingga tidak diketahui di mana letak angka nol absolut (angka nol yang menunjukkan kekosongan sama sekali akan atribut yang diukur). Angka nol dipergunakan dalam skala ini, akan tetapi tidak menunjukkan nol absolut (nol dalam arti nihil atau tidak ada). Contoh dari skala pengukuran jenis ini, misalnya, skala inteligensi, skala motivasi, dan skala prestasi pekerjaan.
Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karaktersitik antara satu individu atau obyek dengan lainnya. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka. Angka-angka yang digunakan dapat dipergunakan dapat dilakukan operasi aritmatika, misalnya dijumlahkan atau dikalikan. Untuk melakukan analisa, skala pengukuran ini menggunakan statistik parametric.
Contoh: Jawaban pertanyaan menyangkut frekuensi dalam pertanyaan, misalnya: Berapa kali Anda melakukan kunjungan ke Jakarta dalam satu bulan? Jawaban: 1 kali, 3 kali, dan 5 kali. Maka angka-angka 1,3, dan 5 merupakan angka sebenarnya dengan menggunakan interval 2.
d. Skala Ratio
Jika dalam skala interval, nilai nol absolut (ukuran kuantitas absolut) diketahui dengan pasti, maka disebut skala rasio. Dengan demikian, dalam skala rasio angka-angka yang menunjukkan ranking (rank-order) telah ditentukan sebelumnya berdasarkan atribut yang diukur, interval (jarak) antar angka-angka yang berurutan menunjukkan jarak yang sama, mempunyai nilai nol absolut, artinya jarak antara tiap angka dalam skala dengan titik nol absolut dapat diketahui, secara eksplisit atau secara rasional.
Skala pengukuran ratio mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, ordinal dan interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai 0 (nol) empiris absolut. Nilai absoult nol tersebut terjadi pada saat ketidakhadirannya suatu karakteristik yang sedang diukur. Pengukuran ratio biasanya dalam bentuk perbandingan antara satu individu atau obyek tertentu dengan lainnya.
Contoh: Berat Sari 35 Kg sedang berat Maya 70 Kg. Maka berat Sari dibanding dengan berat Maya sama dengan 1 dibanding 2.
3. Metode dan Instrumen Penelitian
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan dari pada melakukan penelitian. Namun demikian dalam skala yang paling rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian (Emory, 1985).
Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian
Instrumen-instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dalam ilmu alam sudah banyak tersedia dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Variabel-variabel dalam ilmu alam misalnya panas, maka instrumennya adalah calorimeter, variabel suhu maka instrumennya adalah thermometer, variabel panjang maka instrumennya adalah mistar (meteran), variabel berat maka instrumennya adalah timbangan berat. Instrumen-instrumen tersebut mudah didapat dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya, kecuali yang rusak dan palsu. Instrumen-instrumen yang rusak atau palsu bila digunakan untuk mengukur harus diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dulu.
Instrumen-instrumen dalam penelitian sosial memang ada yang sudah tersedia dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya, seperti instrumen untuk mengukur motif berprestasi, (n-ach) untuk mengukur sikap, mengukur IQ, mengukur bakat dan lain-lain.
Walaupun instrumen-instrumen tersebut sudah ada tetapi sulit untuk dicari, dimana harus dicari dan apakah bisa dibeli atau tidak. Selain itu instrumen-instrumen dalam bidang sosial walaupun telah teruji validitas analisis reliabilitasnya, tetapi bila digunakan untuk tempat tertentu belum tentu tepat dan mungkin tidak valid dan reliabel lagi. Hal ini perlu dimaklumi karena gejala/fenomena sosial itu cepat berubah dan sulit dicari kesamaannya. Instrumen tentang kepemimpinan mungkin valid untuk kondisi Amerika, tetapi mungkin tidak valid untuk Indonesia.
Untuk itu maka peneliti-peneliti dalam bidang sosial instrumen penelitian yang digunakan sering disusun sendiri termasuk menguji validitas dan reliabilitasnya.
Jumlah instrumen penelitian tergantung pada jumlah variabel penelitian yang telah ditetapkan untuk diteliti. Misalnya akan meneliti tentang "Pengaruh kepemimpinan dan ikiim kerja lembaga terhadap produktivitas kerja pegawai". Dalam hal ini ada tiga instrumen yang perlu dibuat yaitu:
1. Instrumen untuk mengukur kepemimpinan,
2. Instrumen untuk mengukur iklim kerja,
3. Instrumen untuk mengukur produktivitas kerja pegawai.
Di dalam membahas variabel dan kategorisasi, kita telah berlatih mengidentifikasikan variabel serta menjabarkannya menjadi sub-variabel, mengarah ke variabel tunggal. Telah kita coba juga untuk menentukan cara bagaimana dapat diperoleh data mengenai variabel-variabel tersebut. Di dalam kegiatan penelitian, cara memperoleh data ini dikenal sebagai metode pengumpuian data. Seperti: wawancara, observasi, kuesioner, dan dokumentasi, yang kesemuanya merupakan sebagian dari metode pengumpuian data.
Apabila kita katakan bahwa untuk memperoleh data kita gunakan metode wawancara, maka di dalam melaksanakan pekerjaan wawancara ini, pewawancara menggunakan alat bantu. Secara minimal alat bantu tersebut berupa ancer-ancer pertanyaan yang akan ditanyakan sebagai catatan, serta alat tulis untuk menuliskan jawaban yang diterima. Ancer-ancer ini disebut pedoman wawancara (interview guide). Oleh karena pedoman wawancara ini merupakan alat bantu, maka disebut juga instrumen pengumpulan data. Dengan demikian maka dalam menggunakan metode wawancara, instrumennya adalah pedoman wawancara.
Banyak di antara orang yang belum paham benar akan penelitian, mengacaukan dua pengertian ini. Hal yang sering salah diperbuat oleh para mahasiswa yang menyusun skripsi atau tesis adalah menyebutkan "metode pengumpulan data adalah pedoman wawancara". Jelas ini salah, Instrumen adalah alat pada waktu penelitian dengan menggunakan suatu metode.
Untuk beberapa metode, kebetulan istilah bagi instrumennya memang sama dengan nama metodenya:
· Instrumen untuk metode tes adalah tes atau soal tes.
· Instrumen untuk metode angket atau kuesioner adalah angket atau kuesioner.
· Instrumen untuk metode observasi adalah check-list.
· Instrumen untuk metode dokumentasi adaiah pedoman dokumen-tasi atau dapat juga check-list.
3.2. Jenis-jenis Metode atau Instrumen Pengumpulan Data
Berbicara tentang jenis-jenis metode dan instrumen pengumpulan data sebenarnya tidak ubahnya dengan berbicara masalah evaluasi. Mengevaluasi tidak lain adalah memperoleh data tentang status sesuatu dibandingkan dengan standar atau ukuran yang telah ditentukan, karena mengevaluasi adalah juga mengadakan pengukuran. Mendasarkan pada pengertian ini, maka apabila kita menyebut jenis metode dan alat atau instrumen pengumpulan data, maka sama saja dengan menyebut alat evaluasi, atau setidak-tidaknya hamper seluruhnya sama.
Secara garis besar, maka alat evaluasi yang digunakan dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
1. Tes.
2. Non-test (bukan tes)
Dalan pembicaraan berikut ini, langsung akan disebutkan satu per satu setiap jenis metode, sekaligus diterangkan mengenai instrumen untuk setiap membicarakan metode yang bersangkutan. Oleh karena luasnya masalah non-test, maka akan dibicarakan sesudah tes selesai dengan langsung menyebutkan metodenya.
a. Tes
Tes adaiah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Dalam membicarakan tes ini akan disampaikan sekaligus alat ukur lain yang sifatnya terstandar {standardized). Ditinjau dari sasaran atau objek yang akan dievaluasi, maka dibedakan adanya beberapa macam tes dan alat ukur lain.
a. Tes kepribadian atau personality test, yaitu tes yang digunakan untuk mengungkap kepribadian seseorang. Yang diukur bisa self-concept, kreafivitas, disiplin, kemampuan khusus, dan sebagainya.
b. Tes bakat atau aptitude test, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur atau mengetahui bakat seseorang.
c. Tes inteligensi atau intelligence test, yaitu tes yang digunakan untuk mengadakan estimasi atau perkiraan terhadap tingkat intelektual seseorang dengan cara memberikan berbagai tugas kepada orang yang akan diukur inteligensinya.
b. Tes sikap atau attitude test, yang sering juga disebut dengan istilah skala sikap, yaitu alat yang digunakan untuk mengadakan pengukuran terhadap berbagai sikap seseorang.
c. Teknik proyeksi atau projective technique. Istilah proyective technique ini mulai dipopulerkan oleh L.K. Frank tahun 1949 di dalam bukunya: Projective Methods for The Study of Personality" (Borg & Gall).
Sebagai contoh projective technique adalah metode tetesan tinta yang diciptakan oleh Rorschach dan disebut Rorschach Inkblot Technique.
d. Tes minat atau measures of interest, adalah alat untuk menggali minat seseorang terhadap sesuatu.
e. Tes prestasi atau achievement test, yaitu test yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu. Berbeda dengan yang lain-lain sebelum ini, tes prestasi diberikan sesudah orang yang dimaksud mempelajari hal-hal sesuai dengan yang akan diteskan. Untuk memahami lebih dalam tentang tes prestasi dan bagaimana menyusun test agar diperoleh alat tes yang baik, dipersilakan membaca buku-buku evaluasi.
Catatan: Pembagian jenis ini sebenarnya bukan merupakan pembagian habis. Antara jenis yang satu dengan jenis yang lain ada yang saling memotong dan bahkan ada yang merupakan bagian darinya.
Dalam menggunakan metode tes, peneliti menggunakan instrumen berupa tes atau soal-soal tes. Soal tes terdiri dari banyak butir tes (item) yang masing-masing mengukur satu jenis variabel.
b. Angket atau Kuesioner (Questionnaires)
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui.
Kuesioner dipakai untuk menyebut metode maupun instrument, jadi dalam menggunakan metode angket atau kuesioner instrumen yang dipakai adalah angket atau kuesioner.
c. Interviu (Interview)
Interviu yang sering juga disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukanoleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewer). Interviu digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu.
Secara fisik interviu dapat dibedakan atas interviu terstruktur dan interviu tidak terstruktur. Pada umumnya interviu terstruktur di luar negeri telah dibuat terstandar (standardized). Seperti halnya kuesioner, interviu terstruktur terdiri dari serentetan pertanyaan di mana pewawancara tinggal memberikan tanda check pada pilihan jawaban yang telah disiapkan. Interviu terstandar ini kadang-kadang disembunyikan oleh pewawancara, akan tetapi tidak sedikit pula yang diperlihatkan kepada responden, bahkan respondenlah yang dipersilakan memberikan tanda. Dalam keadaan yang terakhir maka interviu ini tidak ubahnya sebagai kuesioner saja.
d. Observasi
Orang seringkali mengartikan observasi sebagai suatu aktiva yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata. Di dalam pengertian psikologik, observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Jadi, mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap. Apa yang dikatakan ini sebenarnya adalah pengamatan langsung. Di dalam artian penelitian observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar, rekaman suara.
Mengetes adalah mengadakan pengamatan terhadap aspek kejiwaan yang diukur. Kuesioner diberikan kepada respon untuk mengamati aspek-aspek yang ingin diselidiki. Rekaman gambar dan rekaman suara sebenarnya hanyalah menyimpan kejadian untuk penundaaan observasi.
Observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yang kemudian digunakan untuk menyebut jenis observasi, yaitu:
1. Observasi non-sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan.
2. Observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan.
Pedoman observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati. Dalam proses observasi, observator (pengamat) tinggal memberikan tanda atau tally pada kolom tempat peristiwa muncul. Itulah sebabnya maka cara bekerja seperti ini disebut sistem tanda (sign system).
Sign system digunakan sebagai instrumen pengamatan situasi pengajaran sebagai sebuah potret sesuai pengajaran sebagai sebuah potret selintas (snopshot}. Instrumen tersebut berisi sederetan sub-variabel misalnya: guru menerangkan, guru menulis di papan tulis, guru bertanya kepada kelompok, guru bertanya kepada seorang anak, guru menjawab, murid berteriak, murid bertanya, dan sebagainya. Setelah pengamatan dalam satu periode tertentu, misalnya 5 menit, semua kejadian yang telah muncul dicek. Kejadian yang muncul lebih dari satu kali dalam satu periode pengamatan, hanya dicek satu kali. Dengan demikian akan diperoleh gambar tentang apa kejadian yang muncul dalam situasi pengajaran.
Dalam hal ini pengamat tidak dapat memperhatikan variabel yang terlalu banyak. Dengan demikian pada akhir pengamatan dapat disimpulkan di kelas mana partisipasi murid terjadi paling besar.
e. Skala Bertingkat (Rating) atau Rating Scale
Rating atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subjektif yang dibuat berskala. Walaupun bertingkat ini menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup memberikan informasi tertentu program atau orang. Instrumen ini dapat dengan mudah memberikan gambaran penampilan, terutama penampilan di dalam orang menjalankan tugas, yang menunjukkan frekuensi munculnya sifat-sifat.
Rating-scale harus diinterpretasikan secara hati-hati karena disamping menghasilkan gambaran yang kasar juga jawaban responden tidak begitu saja mudah dipercaya. Sehubungan dengan ini Bergman dan Siegel mendaftar hal-hal yang mempengaruhi ketidakjujuran jawaban responden yaitu: (a) persahabatan, (b) kecepatan menerka, (c) cepat memutuskan, (d) jawaban kesan pertama, (e) penampilan instrumen, (f) prasangka, (g) hallo effects, (h) kesalahan pengambilan rata-rata, (i) kemurahan hati.
Di dalam menyusun skala, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menentukan variabel skala. Apa yang ditanyakan harus apa yang dapat diamati responden. Misalnya seorang guru ditanya tentang jam kehadiran dan kepulangan kepala sekolah. Dia tidak akan dapat menjawab jika ia sendiri selalu dating siang dan pulang awal.
f. Dokumentasi
Dalam uraian tentang studi pendahuluan, telah disinggung pula bahwa sebagai objek yang diperhatikan (ditatap) dalam memperoleh informasi, kita memperhatikan tiga macam sumber, yaitu tulisan (paper), tempat (place), dan kertas atau orang (people). Dalam mengadakan penelitian yang bersumber pada tulisan inilah kita telah menggunakan metode dokumentasi.
Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.
1. Cara Menyusun Instrumen
Instumen-instrumen penelitian dalam bidang sosial umumnya dan khususnya bidang adminsitrasi yang sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu maka peneliti harus mampu membuat instrumen yang akan digunakan untuk penelitian
Titik tolak dari penyusunan instrumen adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi perasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur.
2. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data mengukur itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti karena meteran memang alat untuk mengukur panjang. meteran tersebut menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat. instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan berbagai kali untuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan data yang sama.
Instrumen-instrumen dalam ilmu sosial sudah ada yang baku, karena telah teruji validitas dan reliabilitasnya, tetapi banyak juga yang belum baku bahkan belum ada titik untuk itu maka peneliti harus mampu menyusun sendiri instrumen padan setiap penelitian dan menguji validitas dan realibilitasnya.
Instrumen yang reliabel belum tentu valid. meteran yang putus dibagian ujungnya, bila digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama tetapi selalu tidak valid. Hal ini karena disebabkan instrumen (meteran) tersebut rusak.
Penilitian yang mempunyai validitas interval, bila data yang dihasilkan merupakan fungsi dari rancangan dan instrumen yang digunakan. Instrumen tentang kepemimpinan akan menghasilkan data kepemimpinan, bukan motivasi. Penilitian yang mempunyai validitas eksternal bila, hasil penelitian dapat ditarapkan pada sampelyang lain, atau hasil penelitian itu dapat digeneralisasikan.
3. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Berikut ini dikemukakan cara pengujian viliditas dan reliabilitas instrumen yang akan di gunakan untuk penelitian.
1. Pengujian Validitas Instrumen
1. Pengujian Validitas Konstruksi (Construct Validity)
Setelah pengujian konstruksi dari ahli dan berdasarkan pengalaman empiris dan lapangan selesai, maka diteruskan dengan uji coba instrumen-instrumen tersebut dicobakan pada sampel dari mana populasi diambil.pengalaman empiris ditujukan pada pengujian validitas jumlah anggota sampel yang digunakan sekitar 30 orang.
5. Pengujian Validitas Isi (Content Validity)
Untuk instrumen yang berbentuk teks, pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan.berarti instrumen ujian tersebut tidak mempunyai validitas isi. Untuk instrumen yang akang mengukur afektifitas pelaksanaan program, maka pengujian validitas dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan isi rancangan yang telah ditetapkan.
3. Pengujian Validitas Eksternal
Validitas eksternal diuji denagn cara membandingkan (untuk mencari kesamaan) antara kriteria yang ada pada instumen dengan fakta-fakta empiris yang terjadi dilapangaan. misalnya instumen untuk mengukur kenerja sekelompok pegawai, maka kriteria kenerja pada instrumen itu dibandingkan dengan catatan-catatan dilapangan tentang kinerja pegawai yang baik.
6. Pengujian Reliabilitas Instrumen
Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stabiliti), akufalent, dan gabungan keduannya. secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan tehnik tertentu.
Contoh pengujian validitas dan reabilitas instrumen
Instrumen yang akan diuji adalah instrumen gaya kepemimpinan mengajar, seperti contoh di atas, instrumen tersebut diasumsikan telah disetujui oleh para ahli.
1. Pengujian Validitas Instrumen
2. Pengujian Reabilitas Instrumen
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta.
Djunaedi, Achmad. 2000. Pengantar: Apakah Penelitian Itu?. http://intranet.ugm.ac.id/~adjunaedi/Support/Materi/METLITI/a01metlitpengantar.pdf. Dikunjungi 3 Juni 2010.
Hempel, Carl Gustav. 2004. Pengantar Filsafat Ilmu Alam. Penerjemah Cuk Ananta Wijaya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Kerlinger, Fred N. 2000. Asas-Asas Penelitian Behavioural. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Miles, M.B. dan Huberman, A.M. 1992. Analisis Data Kualitatif : Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru. UIPress. Jakarta.
Nazir, Mohammad. 1999. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sarwono, J. 2003. Perbedaan Dasar antara Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. http://www.w3.org/TR/REChtml40. Dikunjungi 3 Juni 2010.
Sugiyono. 1999. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.
Trochim, William M. 2002. Philosophy of Research. http://trochim.humancornell.edu/derived/philosophy.html. Dikunjungi 3 Juni 2010.
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi VI. Cetakan: Ketigabelas. Rineka Cipta. Jakarta.
Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Administrasi. Cetakan: ke-15. Alfabeta. Bandung.
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantiitatif, Kualitatif dan R&D. Cetakan: Kedelapan. Alfabeta. Bandung.
Segala puja dan puji syukur atas kehadirat Sang Creator Maha Agung Allah SWT, karena hanya izin dan kuasa-Nyalah sehingga penulisan Makalah “Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif” dapat terselesaikan, beserta embrio-embrio mutakhir-Nya, para Rasul-rasul-Nya. Tak lupa pula shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad s.a.w, beserta seluruh keluarganya, sahabatnya dan umatnya sampai akhir jaman.
Pendidikan akan sangat berperan penting dalam pembangunan bangsa Indonesia ke depan, oleh karena itu lembaga pendidikan baik yang formal maupun yang informal, akan menjadi tonggak dan turut berperan serta dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.
Pendidikan merupakan suatu proses yang utama dalam kehidupan umat manusia. Dalam agama, menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban, dan kita dituntut untuk menuntut ilmu sampai akhir hayat. Dalam tatanan negara, Indonesia sebagai negara yang berkembang juga menempatkan pendidikan dalam tujuan negara. Hal ini tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dimana salah satu tujuan negara adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dosen pengajar peda mata kuliah “Metodologi Penilitian”.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak sedikit hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi dalam menyelesaikan makalah ini. Namun berkat ketekunan dan bantuan dari semua pihak akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.
Gorontalo, 16 Juni 2010
Abdhy Gunawan M. A
1.1. Pengertian Variabel
Fenomena yang dihadapi mahasiswa sebelum melaksanakan penelitian biasanya berkenaan dengan pertanyaan tentang variabel. Karena tanpa jawaban pasti tentang variabel, penelitian yang dilakukan mahasiswa akan mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi yang akan digunakan untuk mengambil kesimpulan.
Kalau ada pertanyaan tentang apa yang anda teliti, maka jawabannya berkenaan dengan variabel penelitian. Jadi variabel penelitian pada dasamya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.
Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau obyek, yang mempunyai "variasi" antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain (Hatch dan Farhady, 1981). Variabel juga dapat merupakan atribut dari bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, merupakan atribut-atribut dari setiap orang. Berat, ukuran, bentuk, dan warna merupakan atribut-atribut dari obyek. Struktur organisasi, model pendelegasian, kepemimpinan, pengawasan, koordinasi, prosedur dan mekanisme kerja, deskripsi pekerjaan, kebijakan, adalah merupakan contoh variabel dalam kegiatan administrasi.
Dinamakan variabel karena ada variasinya. Misalnya berat badan dapat dikatakan variabel, karena berat badan sekelompok orang itu bervariasi antara satu orang dengan yang lain. Demikian juga motivasi, persepsi dapat juga dikatakan sebagai variabel karena misalnya persepsi dari sekelompok orang tentu bervariasi. Jadi kalau peneliti akan memilih variabel penelitian, baik yang dimiliki orang obyek, maupun bidang kegiatan dan keilmuan tertentu, maka harus ada variasinya. Variabel yang tidak ada variasinya bukan dikatakan sebagai variabel. Untuk dapat bervariasi, maka penelitian harus didasarkan pada sekelompok sumber data atau obyek yang bervariasi.
Kerlinger (1973) menyatakan bahwa variabel adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari. Diberikan contoh misalnya, tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikan, status sosial, jenis kelamin, golongan gaji, produktivitas kerja, dan lain-lain. Di bagian lain Kerlinger menyatakan bahwa variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values). Dengan demikian variabel itu merupakan suatu yang bervariasi. Selanjutnya Kidder (1981), menyatakan bahwa variabel adalah suatu kualitas (qualities) dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat dirumuskan di sini bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain. Pengertian lain bahwa variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep tertentu. Pengukuran variabel adalah proses menentukan jumlah atau intensitas informasi mengenai orang, peristiwa, gagasan, dan atau obyek tertentu serta hubungannya dengan masalah atau peluang bisnis. Dengan kata lain, menggunakan proses pengukuran yaitu dengan menetapkan angka atau tabel terhadap karakteristik atau atribut dari suatu obyek, atau setiap jenis fenomena atau peristiwa yang mengunakan aturan-aturan tertentu yang menunjukkan jumlah dan atau kualitas dari faktor-faktor yang diteliti.
Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai (Moh. Nazir). Dengan demikian, variabel adalah merupakan objek yang berbentuk apa saja yang ditentukan oleh peneliti dengan tujuan untuk memperoleh informasi agar bisa ditarik suatu kesimpulan. Secara teori, definisi variabel penelitian adalah merupakan suatu objek, atau sifat, atau atribut atau nilai dari orang, atau kegiatan yang mempunyai bermacam-macam variasi antara satu dengan lainnya yang ditetapkan oleh peneliti dengan tujuan untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.
Variabel penelitian adalah objek yang berbentuk apa saja yang ditentukan oleh peneliti untuk dicari informasinya dengan tujuan untuk ditarik suatu kesimpulan. Akan tetapi secara teori, definisi variabel penelitian adalah merupakan suatu obyek, atau sifat, atau atribut atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai bermacam-macam variasi antara satu dengan lainnya yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Misalnya saja mahasiswa. Kalau kita berbicara tentang mahasiswa saja, hal ini belum bisa dikatakan variabel. Karena mahasiswa saja hanya merupakan sebuah konsep. Akan tetapi kalau kita sudah berbicara tentang Mahasiswa Fakultas MIPA, Mahasiswa Fakultas Teknik, Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan, artinya kita sudah membicarakan variabel. Karena mahasiswa Fakultas MIPA, Teknik, dan Ilmu Pendidikan merupakan konsep yang memiliki bermacam-macam variasi. Atau jika kita membicarakan tentang badan. Hal ini belum bisa dikatakan variabel. Karena badan saja hanya merupakan sebuah konsep. Akan tetapi sebaliknya, kalau kita sudah berbicara tentang tinggi badan mahasiswa, jenis kelamin mahasiswa, atau berat badan mahasiswa, atau aktivitas mahasiswa, berarti kita sudah berbicara tentang variabel. Karena tinggi badan, jenis kelamin, berat badan dan motivasi mahasiswa memiliki bermacam-macam variasi.
Untuk kepentingan penelitian, konsep bisa diubah menjadi variabel. Hal itu kita lakukan dengan cara memusatkan perhatian terhadap karakteristi-karakteristik dari variabel itu sendiri. Misalnya saja konsep tentang konsumsi, bisa diubah menjadi variabel makanan ringan, makanan berlemak, makanan berserat, dan lain-lain.
Akan tetapi konsep-konsep sosial yang sudah diterjemahkan menjadi satuan yang sudah kita anggap lebih operasional itu, variabel dan konstruk (construct), biasanya belum sepenuhnya siap untuk diukur. Karena variabel dan konstruk sosial memiliki alternatif dimensi yang bisa diukur dengan cara berlainan. Definisi operasional adalah aspek penelitian yang memberikan informasi kepada kita tentang bagaimana caranya mengukur variabel.
Definisi operasional adalah semacam petunjuk kepada kita tentang bagimana caranya mengukur suatu variabel. Definisi operasional merupakan informasi ilmiah yang sangat membantu peneliti lain yang ingin melakukan penelitian dengan menggunakan variabel yang sama. Karena berdasarkan informasi itu, ia akan mengetahui bagaimana caranya melakukan pengukuran terhadap variabel yang dibangun berdasarkan konsep yang sama. Dengan demikian ia dapat menentukan apakah tetap menggunakan prosedur pengukuran yang sama atau diperlukan pengukuran yang baru.
1.2. Jenis-jenis Variabel Dalam Penelitian
Setelah kita membicarakan beberapa pengertian dasar tentang variabel, berikut ini kita akan membicarakan beberapa macam variabel ditinjau dari aspek hubungan antar variabel yang digunakan untuk penelitian. Partama adalah variabel dependen (terikat). Variabel ini merupakan variabel terikat yang besarannya tergantung dari besaran variabel independen (bebas). Besarnya perubahan yang disebabkan oleh variabel independen ini, akan memberi peluang terhadap perubahan variabel dependen (terikat) sebesar koefisien (besaran) perubahan dalam variabel independen. Artinya, setiap terjadi perubahan sekian kali satuan variabel independen, diharapkan akan menyebakan variabel dependen berubah sekian satuan juga. Sebaliknya jika terjadi perubahan (penurunan) variabel independen (bebas) sekian satuan, diharapkan akan menyebabkan perubahan (penurunan) variabel dependen sebesar sekian satuan juga.
Hubungan antar variabel, yakni variabel independen dan dependen, biasanya ditulis dapal bentuk persamaan, Y = a + bX. Misalnya bentuk persamaan linear Y = 3 + 2X. Y adalah pengguaan Pupuk dalam satua Kwintal, dan Y adalah hasil produksi padi dalam satuan Ton. Bila terjadi perubahan X sebesar 1 ((satu) satuan (kwintal), diharapkan akan terjadi perubahan Y sebesar 2 (dua) satuan Ton.
a. Variabel Bebas (Independen Variable)
Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel bebas biasanya dimanipulasi, diamati, dan diukur untuk diketahui hubungannya (pengaruhnya) dengan variabel lain. Dalam ilmu tingkah laku, variabel bebas biasanya merupakan stimulus atau input yang beroperasi dalam diri seseorang atau di dalam lingkungannya untuk mempengaruhi tingkah laku.
b. Variabel Terikat (Dependen Variable)
Variabel ini sering disebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. variabel respon atau output. Sebagai variabel respon berarti variabel ini akan muncul sebagai akibat dari manipulasi suatu variabel-variabel yang dimanipulasikan dalam penelitian, yang disebut sebagai variabel bebas (Kerlinger, 1979). Dalam ilmu tingkah laku, variabel terikat adalah aspek tingkah laku yang diamati dari suatu organisme yang telah dikenai stimulus. Dengan kata lain, variabel terikat adalah faktor yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya pengaruh dari variabel bebas.
c. Variabel Moderator
Variabel moderator adalah sebuah tipe khusus variabel bebas, yaitu variabel bebas sekunder yang diangkat untuk menentukan apakah ia mempengaruhi hubungan antara variabel bebas primer dan variabel terikat (Best, 1977; Tuckman, 1978). Variabel moderator adalah faktor yang diukur, dimanipulasi atau dipilih peneliti untuk mengungkap apakah faktor tersebut mengubah hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Jika peneliti ingin mempelajari pengaruh variabel bebas X terhadap variabel terikat Y tetapi ragu-ragu apakah hubungan antara X clan Y tersebut berubah karena variabel Z, maka Z dapat dianalisis sebagai variabel moderator.
Variabel Moderator adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel independen dengan dependen. Variabel disebut juga sebagai variabel independen ke dua. Hubungan perilaku suami dan isteri akan semakin baik (kuat) kalau mempunyai anak, dan akan semakin renggang kalau ada pihak ke tiga ikut mencampuri. Di sini anak adalah sebagai variabel moderator yang memperkuat hubungan, dan pihak ke tiga adalah sebagai variabel moderator yang memperlemah hubungan. Hubungan motivasi dan produktivitas kerja akan semakin kuat bila peranan pemimpin dalam menciptakan ikiim kerja sangat baik, dan hubungan semakin rendah bila peranan pemimpin kurang baik dalam menciptakan ikiim kerja.
Analisis hubungan yang menggunakan minimal dua variabel, yakni satu variabel dependen dan satu atau beberapa variabel independen, adakalanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model staistik yang kita gunakan. Dalam analisis statistik ada yang dikenal dengan variabel moderator. Variabel moderator ini adalah variabel yang selain bisa memperkuat hubungan antar variabel, dilain pihak juga bisa memperlemah hubungan antara satu atau beberapavariabel independen dan variabel dependen. Misalnya pelatihan yang diikuti karyawan sebuah perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan ketrampilan menyelesaikan tugas-tugas administrasi. Seluruh karyawan yang mengikuti pelatihan tersebut memiliki jenjang pendidikan yang sama. Tetapi setelah selesai mengikuti pelatihan dan dilakukan uji keterampilan, ternyata kemampuan karyawan yang berasal dari Sekolah Kejuruan, memiliki keterampilan yang lebih baik dibandingkan dengan karyawan yang berasal dari Sekolah Umum. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan kemampuan menyerap materi yang disampaikan ketika melaksanakan pelatihan.
Kondisi ini bisa saja terjadi karena ada variabel moderator yang bisa menyebabkan karyawan yang berasal dari Sekolah Umum memiliki motivasi yang lebih rendah untuk mengikuti pelatihan jika dibandingkan dengan Karyawan yang berasal dari sekolah Kejuruan. Dalam contoh di atas pelatihan adalah variabel independen, prestasi kerja adalah variabel dependen, dan motivasi untuk mengikuti pelatihan adalah variabel moderator. Atau dengan kata lain, variabel moderator memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kemampuan variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen.
d. Variabel Intervening.
Apabila suatu variabel yang ingin diketahui pengaruhnya terhadap variabel terikat ternyata tidak dapat diamati (diukur) karena terlalu abstrak, maka variabel tersebut biasanya dipandang sebagai variabel antara (intervening). Jadi variabel antara adalah faktor yang secara teoretik mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat tetapi tidak dapat dilihat sehingga tidak dapat diukur atau dimanipulasi.
Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang terletak di antara variabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.
Variabel intervening dalam hal ini Tuckman (1988) menyatakan "An intervening variable is that factor that theoretically affect the observed phenomenon but cannot be seen, measure, or manipulate". Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang terletak di antara variabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau-timbulnya variabel dependen.
Dalam setiap penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa, biasanya menemukan variabel yang bisa memperkuat atau memperlemah hubungan antar variabel (variabel moderator) yang sedang diukur. Secara teori setiap variabel memang ada dan memiliki satuan ukur. Akan tetapi variabel ada sebagian variabel yang nilainya secara satuan relatif tidak dapat diukur secara pasti, misalnyakecewa, gembira, sakit hati, stress, frustasi dan sebagainya. Variabel seperti itu dinamakan variabel variabel intervening. Contoh: meningkatnya hasil produksi padi dalam suatu lahan sawah yang diukur dengan satuan penggunaan biaya pupuk tinggi, biaya pembelian bibit padi tinggi, dan pengairan yang baik, tetap tidak mengalami peningkatan hasil produksi padi secara signifikan. Kemudian setelah diteliti secara seksama, ternyata sebagian besar lahan sawah sedang terserang hama tikus.
e. Variabel Kontrol
Tidak semua variabel di dalam suatu penelitian dapat dipelajari sekaligus dalam waktu yang sama. Beberapa di antara variabel tersebut harus dinetralkan pengaruhnya untuk menjamin agar variabel yang dimaksud tidak mengganggu hubungan antara variabel bebas clan variabel terikat. Variabel-variabel yang pengaruhnya harus dinetralkan atau dikontrol tersebut disebut variabel-variabel kontrol. Jadi, variabel kontrol adalah faktor-faktor yang dikontrol atau dinetralkan pengaruhnya oleh peneliti karena jika tidak demikian diduga ikut mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Variabel kontrol berbeda dengan variabel moderator.
Jadi variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh variabel indepeden terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel kontrol sering digunakan oleh peneliti, bila akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.
Variabel yang sering digunakan dalam penelitian mahasiswa, selain variabel moderator dan variabel intervening adalah variabel kontrol. Variabel ini (kontrol), kualitas dan kuantitasnya bisa dikendalikan oleh peneliti sesuai dengan waktu dan tempat yang dikehendaki. Misalnya saja produktivitas lahan sawah sebagai variabel tak bebas yang diukur dengan satuan penggunaan bibit sebagai variabel. Peneliti menggunakan variabel kontrol dalam bentuk penggunaan pupuk, tentunya dalam kualitas dan kuantitas yang sama, akan tetapi penggunaan bibit sebagai bariabel bebas, kualitas dan kuantitas berbeda. Kualitas dan kuantitas bibit padi sebagai variabel bebas diukur dalam satuan kg, sedangkan produktivitas lahan sawah merupakan variabel tak bebas yang diukur dalam satuan ton.
1.3. Variabel Sebagai Objek Penelitian
Apabila seorang peneliti ingin menyelidiki apakah benar bahwa susu menyebabkan badan menjadi gemuk, maka yang menjadi objek penelitiannya adaiah susu dan berat badan orang. Maka susu dan berat badan merupakan variabel penelitian.
Dalam penelitian seperti ini, sebaiknya peneliti menggunakan pendekatan eksperimen. Kelompok eksperimen adaiah orang-orang yang minum susu, sedangkan keiompok kontrol atau kelompok pembanding adalah orang-orang yang tidak diberi minum susu. Banyaknya susu yang diberikan kepada kelompok eksperimen ditakar dengan ukuran liter, maka variabelnya berbentuk variabel kontinum. Sedangkan tambah-tidaknya berat badan, diukur dengan ukuran kilogram, variabelnya juga variabel kontinum (ratio).
Peneliti lain ingin menyelidiki besamya kesadaran bermasyarakat bagi orang-orang yang mendapat pendapat P4. Dalam hal ini maka nilai penataran P4 dan kesadaran bermasyarakat merupakan variabel penelitian. Baik nilai penataran P4 maupun kesadaran bermasyarakat dapatdiukur, digambarkan dalam bentuk angka dan dikategorikan sebagai variabel interval.
Dari kedua contoh penelitian ini, kita tahu bahwa kesamaannya, yaitu sama-sama melihat pengaruh sesuatu treatment, maka ada variabel yang mempengaruhi dan variabel akibat. Variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas atau independent variable (X), sedangkan variabel akibat disebut variabel tidak bebas variabel tergantung, variabel terikatatau dependent variable (Y).
Dalam penelitian I, susu merupakan variabel bebas dan berat badan merupakan variabel akibat. Sedangkan dalam penelitian II, nilai penataran P4 merupakan variabel bebas dan kesadaran bermasyarakat merupakan variabel terikat. Sehubungan dengan variabel dalam eksperimen ini, Fred N. Kerlingert berpendapat:
All experiments have one fundamental idea behind them: to test the effect of one or more independent variables on a dependent variable (it is possible to have more than one dependent variable in experiments).
Dalam contoh dua penelitian di atas, susu dan penataran P4 sebagai independent variables merupakan variabel tunggal. Demikian pula berat badan dan kesadaran bermasyarakat, keduanya merupakan variabel tunggal. Sebagai contoh eksperimen yang lebih dari satu variabelnya adaiah sebagai berikut:
Independent variable lebih dari satu.
“Pengaruh Lingkungan Belajar Terhadap Prestasi Belajar Murid”
Dalam hal ini variabel lingkungan beiajar diartikan terdiri dari lingkungan befajardi rumah sebagai satu variabel atau sub-variabel dan lingkungan belajardi sekolah sebagai variabel (sub-variabel) lain. Barangkali kalau akan lebih teliti lagi kita dapat rnempeihatikan lingkungan belajar di masyarakat atau pergaulan sebagai variabel (sub-variabel) ketiga. Apabila demikian, maka variabel sebagai konsep dapat dimengerti sebagai sesuatu yang mempunyai nilai luas (ganda) maupun sempit (tunggal). Seperti halnya susu dan penataran P4, kelihatannya merupakan variabel yang bernilai tunggal Tetapi lingkungan belajar merupakan variabel yang berniiai luas atau ganda.
Menurut pendapat Kerlingert selanjutnya tentang variabel:
It is posible, by definition, for a variable to have only one value. It is then called a constant. We deal almost exclucively with variables that have two or more values.
Berikut ini adalah contoh eksperimen dengan variabel terikat febih dari satu.
Pengaruh frekuensi mengikuti praktikum terhadap kemampuan mengajar. Yang menjadi variabe! terikat di dalam penelitian ini adalah kemampuan mengajar, yang nilainya diperinci atas: kemampuan membuat persiapan tertutis dan kemampuan mengajar di depan kelas. Jadi, secara terpisah adadua variabel. Apabila dikehendaki lebih teliti, kemampuan mengajar di depan kelas dapat diperinci lagi menjadi kemampuan membuka pelajaran, mengajarkan materi dalam inti mengajar, menutup pelajaran, kemampuan menggunakan alat, kemampuan mengelola kelas, mengevaluasi murid dan sebagainya.
Dari pengalaman mengajar dan membimbing mahasiswa, penulis mendapat kesan bahwa sukar sekali bagi sebagian para mahasiswa tersebut menentukan variabel. Sebagai contoh dari judul penelitian di atas, yakni:
"Pengaruh Frekuensi Mengikuti Praktikum Terhadap Kemampuan Mengajar" Penulis menjumpai kesalahan-kesalahan yang ditentukan sebagai variabel, antara lain:
* Pengaruh frekuensi,
* Mengikuti praktikum,
* Praktikum,
* Terhadap kemampuan mengajar,
* Mengajar,
* dan sebagainya.
Dari gambaran ini rupanya belum terungkap apa yang dimaksud dengan objek penelitian, yang diamati oleh peneliti atau variabel penelitian tersebut.
2. Macam-macam Skala Pengukuran
Dapat tidaknya suatu prosedur analisis statistik diterapkan untuk mengolah dan menganalisis hasil pengukuran, tergantung juga dari jenis skala pengukuran yang digunakan. Berbagai skala pengukuran dapat dikelompokkan ke dalam empat tingkatan, yaitu: skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala rasio. Keempat skala pengukuran tersebut memiliki tingkat penggunaan yang berbeda dalam riset penelitian.
* Skala nominal hanya bisa membedakan sesuatu yang bersifat kualitatif (misalnya: jenis kelamin, agama, warna kulit). Skala yang memungkinkan peneliti mengelompokkan subyek kedalam katagori atau kelompok.
Misalkan gender responden dapat dikelompokkan dalam 2 katagori : Pria dan wanita. Skala gender dapat dinyatakan dalam angka : Pria = 1 dan Wanita = 2. Skala Nominal bersifat mutualy exlusive dan masing-masing anggota himpunan tersebut tidak ada perbedaan nilai.
* Skala ordinal selain membedakan juga menunjukkan tingkatan (misalnya: pendidikan, tingkat kepuasan). Skala Ordinal tidak hanya menyatakan kategori tapi juga menyatakan peringkat kategori tersebut. Skala Ordinal menjawab atas suatu pertanyaan, responden diminta untuk memberikan urutan alternatif jawaban yang paling sesuai. Contoh: rangking jawaban yang dibuat berdasarkan preferensi Responden.
1. Senang sekali, 2. Senang, 3. Kurang senang, 4. Kurang senang sekali.
(beda antara dua titik tidak dapat diukur).
* Skala interval berupa angka kuantitatif namun tidak memiliki nilai nol mutlak (misalnya: tahun, suhu dalam Celcius). Skala Interval memungkinkan mengukur beda antara dua titik dalam skala, menghitung means dan standar deviasi data.
Contoh : Jarak waktu jam.08.00 – 10.00 adalah sama dengan jarak waktu 16.00 – 18.00. Tetapi kita tidak dapat menyatakan bahwa jam.16.00 dua kali lebih lambat dibandingkan jam.08.00.
* Skala rasio berupa angka kuantitatif yang memiliki nilai nol mutlak. Skala Rasio merupakan kedudukan data yang tertinggi, dimana memiliki nilai nol yang orisinal. Contoh: Jika aset perusahaan A sebanyak Rp. 10 Milyar dan aset perusahaan B sebanyak Rp. 5 Milyar, maka rasio A & B adalah 2 : 1.
Definisi :
a. Skala Nominal
Jika angka-angka dalam rentangan skala pengukuran hanya berfungsi sebagai pengganti nama (label) atau kategori, tidak menunjukkan suatu kuantitas, maka skala pengukurannya disebut nominal.
Skala pengukuran nominal digunakan untuk mengklasifikasikan obyek, individual atau kelompok; sebagai contoh mengklasifikasi jenis kelamin, agama, pekerjaan, dan area geografis. Dalam mengidentifikasi hal-hal di atas digunakan angka-angka sebagai symbol. Apabila kita menggunakan skala pengukuran nominal, maka statistik non-parametrik digunakan untuk menganalisa datanya. Hasil analisa dipresentasikan dalam bentuk persentase. Sebagai contoh kita mengklaisfikasi variable jenis kelamin menjadi sebagai berikut: laki-laki kita beri simbol angka 1 dan wanita angka 2. Kita tidak dapat melakukan operasi arimatika dengan angka-angka tersebut, karena angka-angka tersebut hanya menunjukkan keberadaan atau ketidakadanya karaktersitik tertentu.
Contoh: Jawaban pertanyaan berupa dua pilihan “ya” dan “tidak” yang bersifat kategorikal dapat diberi symbol angka-angka sebagai berikut: jawaban “ya” diberi angka 1 dan tidak diberi angka 2.
b. Skala Ordinal
Jika angka-angka dalam rentangan skala pengukuran tidak hanya menunjukkan kategori-kategori, tetapi juga menunjukkan hubungan kuantitas tertentu, yakni gradasi, maka skala pengukurannya disebut ordinal. Dalam skala ordinal, Sekelompok subjek disusun berturut-turut mulai dari yang paling tinggi (besar, kuat, baik) sampai kepada yang paling rendah (kecil, lemah, jelek) dalam hal atribut yang diukur.
Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh obyek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu obyek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.
Contoh: Jawaban pertanyaan berupa peringkat misalnya: sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju dan sangat setuju dapat diberi symbol angka 1, 2,3,4 dan 5. Angka-angka ini hanya merupakan simbol peringkat, tidak mengekspresikan jumlah.
c. Skala Interval
Jika angka-angka dalam skala pengukuran tidak hanya menunjukkan hubungan kuantitatif dalam gradasi (ranking) tetapi juga menunjukkan bahwa jarak atau perbedaan kuantitas antar dua angka yang berurutan selalu sama, maka skala pengukurannya disebut interval. Dalam skala interval angka-angka ranking (rank-order) ditetapkan berdasarkan atribut yang diukur, jarak atau perbedaan kuantitas antar angka-angka yang berurutan selalu sama, tidak ada kepastian tentang kuantitas absolut, sehingga tidak diketahui di mana letak angka nol absolut (angka nol yang menunjukkan kekosongan sama sekali akan atribut yang diukur). Angka nol dipergunakan dalam skala ini, akan tetapi tidak menunjukkan nol absolut (nol dalam arti nihil atau tidak ada). Contoh dari skala pengukuran jenis ini, misalnya, skala inteligensi, skala motivasi, dan skala prestasi pekerjaan.
Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karaktersitik antara satu individu atau obyek dengan lainnya. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka. Angka-angka yang digunakan dapat dipergunakan dapat dilakukan operasi aritmatika, misalnya dijumlahkan atau dikalikan. Untuk melakukan analisa, skala pengukuran ini menggunakan statistik parametric.
Contoh: Jawaban pertanyaan menyangkut frekuensi dalam pertanyaan, misalnya: Berapa kali Anda melakukan kunjungan ke Jakarta dalam satu bulan? Jawaban: 1 kali, 3 kali, dan 5 kali. Maka angka-angka 1,3, dan 5 merupakan angka sebenarnya dengan menggunakan interval 2.
d. Skala Ratio
Jika dalam skala interval, nilai nol absolut (ukuran kuantitas absolut) diketahui dengan pasti, maka disebut skala rasio. Dengan demikian, dalam skala rasio angka-angka yang menunjukkan ranking (rank-order) telah ditentukan sebelumnya berdasarkan atribut yang diukur, interval (jarak) antar angka-angka yang berurutan menunjukkan jarak yang sama, mempunyai nilai nol absolut, artinya jarak antara tiap angka dalam skala dengan titik nol absolut dapat diketahui, secara eksplisit atau secara rasional.
Skala pengukuran ratio mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, ordinal dan interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai 0 (nol) empiris absolut. Nilai absoult nol tersebut terjadi pada saat ketidakhadirannya suatu karakteristik yang sedang diukur. Pengukuran ratio biasanya dalam bentuk perbandingan antara satu individu atau obyek tertentu dengan lainnya.
Contoh: Berat Sari 35 Kg sedang berat Maya 70 Kg. Maka berat Sari dibanding dengan berat Maya sama dengan 1 dibanding 2.
3. Metode dan Instrumen Penelitian
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan dari pada melakukan penelitian. Namun demikian dalam skala yang paling rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian (Emory, 1985).
Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian
Instrumen-instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dalam ilmu alam sudah banyak tersedia dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Variabel-variabel dalam ilmu alam misalnya panas, maka instrumennya adalah calorimeter, variabel suhu maka instrumennya adalah thermometer, variabel panjang maka instrumennya adalah mistar (meteran), variabel berat maka instrumennya adalah timbangan berat. Instrumen-instrumen tersebut mudah didapat dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya, kecuali yang rusak dan palsu. Instrumen-instrumen yang rusak atau palsu bila digunakan untuk mengukur harus diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dulu.
Instrumen-instrumen dalam penelitian sosial memang ada yang sudah tersedia dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya, seperti instrumen untuk mengukur motif berprestasi, (n-ach) untuk mengukur sikap, mengukur IQ, mengukur bakat dan lain-lain.
Walaupun instrumen-instrumen tersebut sudah ada tetapi sulit untuk dicari, dimana harus dicari dan apakah bisa dibeli atau tidak. Selain itu instrumen-instrumen dalam bidang sosial walaupun telah teruji validitas analisis reliabilitasnya, tetapi bila digunakan untuk tempat tertentu belum tentu tepat dan mungkin tidak valid dan reliabel lagi. Hal ini perlu dimaklumi karena gejala/fenomena sosial itu cepat berubah dan sulit dicari kesamaannya. Instrumen tentang kepemimpinan mungkin valid untuk kondisi Amerika, tetapi mungkin tidak valid untuk Indonesia.
Untuk itu maka peneliti-peneliti dalam bidang sosial instrumen penelitian yang digunakan sering disusun sendiri termasuk menguji validitas dan reliabilitasnya.
Jumlah instrumen penelitian tergantung pada jumlah variabel penelitian yang telah ditetapkan untuk diteliti. Misalnya akan meneliti tentang "Pengaruh kepemimpinan dan ikiim kerja lembaga terhadap produktivitas kerja pegawai". Dalam hal ini ada tiga instrumen yang perlu dibuat yaitu:
1. Instrumen untuk mengukur kepemimpinan,
2. Instrumen untuk mengukur iklim kerja,
3. Instrumen untuk mengukur produktivitas kerja pegawai.
Di dalam membahas variabel dan kategorisasi, kita telah berlatih mengidentifikasikan variabel serta menjabarkannya menjadi sub-variabel, mengarah ke variabel tunggal. Telah kita coba juga untuk menentukan cara bagaimana dapat diperoleh data mengenai variabel-variabel tersebut. Di dalam kegiatan penelitian, cara memperoleh data ini dikenal sebagai metode pengumpuian data. Seperti: wawancara, observasi, kuesioner, dan dokumentasi, yang kesemuanya merupakan sebagian dari metode pengumpuian data.
Apabila kita katakan bahwa untuk memperoleh data kita gunakan metode wawancara, maka di dalam melaksanakan pekerjaan wawancara ini, pewawancara menggunakan alat bantu. Secara minimal alat bantu tersebut berupa ancer-ancer pertanyaan yang akan ditanyakan sebagai catatan, serta alat tulis untuk menuliskan jawaban yang diterima. Ancer-ancer ini disebut pedoman wawancara (interview guide). Oleh karena pedoman wawancara ini merupakan alat bantu, maka disebut juga instrumen pengumpulan data. Dengan demikian maka dalam menggunakan metode wawancara, instrumennya adalah pedoman wawancara.
Banyak di antara orang yang belum paham benar akan penelitian, mengacaukan dua pengertian ini. Hal yang sering salah diperbuat oleh para mahasiswa yang menyusun skripsi atau tesis adalah menyebutkan "metode pengumpulan data adalah pedoman wawancara". Jelas ini salah, Instrumen adalah alat pada waktu penelitian dengan menggunakan suatu metode.
Untuk beberapa metode, kebetulan istilah bagi instrumennya memang sama dengan nama metodenya:
· Instrumen untuk metode tes adalah tes atau soal tes.
· Instrumen untuk metode angket atau kuesioner adalah angket atau kuesioner.
· Instrumen untuk metode observasi adalah check-list.
· Instrumen untuk metode dokumentasi adaiah pedoman dokumen-tasi atau dapat juga check-list.
3.2. Jenis-jenis Metode atau Instrumen Pengumpulan Data
Berbicara tentang jenis-jenis metode dan instrumen pengumpulan data sebenarnya tidak ubahnya dengan berbicara masalah evaluasi. Mengevaluasi tidak lain adalah memperoleh data tentang status sesuatu dibandingkan dengan standar atau ukuran yang telah ditentukan, karena mengevaluasi adalah juga mengadakan pengukuran. Mendasarkan pada pengertian ini, maka apabila kita menyebut jenis metode dan alat atau instrumen pengumpulan data, maka sama saja dengan menyebut alat evaluasi, atau setidak-tidaknya hamper seluruhnya sama.
Secara garis besar, maka alat evaluasi yang digunakan dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
1. Tes.
2. Non-test (bukan tes)
Dalan pembicaraan berikut ini, langsung akan disebutkan satu per satu setiap jenis metode, sekaligus diterangkan mengenai instrumen untuk setiap membicarakan metode yang bersangkutan. Oleh karena luasnya masalah non-test, maka akan dibicarakan sesudah tes selesai dengan langsung menyebutkan metodenya.
a. Tes
Tes adaiah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Dalam membicarakan tes ini akan disampaikan sekaligus alat ukur lain yang sifatnya terstandar {standardized). Ditinjau dari sasaran atau objek yang akan dievaluasi, maka dibedakan adanya beberapa macam tes dan alat ukur lain.
a. Tes kepribadian atau personality test, yaitu tes yang digunakan untuk mengungkap kepribadian seseorang. Yang diukur bisa self-concept, kreafivitas, disiplin, kemampuan khusus, dan sebagainya.
b. Tes bakat atau aptitude test, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur atau mengetahui bakat seseorang.
c. Tes inteligensi atau intelligence test, yaitu tes yang digunakan untuk mengadakan estimasi atau perkiraan terhadap tingkat intelektual seseorang dengan cara memberikan berbagai tugas kepada orang yang akan diukur inteligensinya.
b. Tes sikap atau attitude test, yang sering juga disebut dengan istilah skala sikap, yaitu alat yang digunakan untuk mengadakan pengukuran terhadap berbagai sikap seseorang.
c. Teknik proyeksi atau projective technique. Istilah proyective technique ini mulai dipopulerkan oleh L.K. Frank tahun 1949 di dalam bukunya: Projective Methods for The Study of Personality" (Borg & Gall).
Sebagai contoh projective technique adalah metode tetesan tinta yang diciptakan oleh Rorschach dan disebut Rorschach Inkblot Technique.
d. Tes minat atau measures of interest, adalah alat untuk menggali minat seseorang terhadap sesuatu.
e. Tes prestasi atau achievement test, yaitu test yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu. Berbeda dengan yang lain-lain sebelum ini, tes prestasi diberikan sesudah orang yang dimaksud mempelajari hal-hal sesuai dengan yang akan diteskan. Untuk memahami lebih dalam tentang tes prestasi dan bagaimana menyusun test agar diperoleh alat tes yang baik, dipersilakan membaca buku-buku evaluasi.
Catatan: Pembagian jenis ini sebenarnya bukan merupakan pembagian habis. Antara jenis yang satu dengan jenis yang lain ada yang saling memotong dan bahkan ada yang merupakan bagian darinya.
Dalam menggunakan metode tes, peneliti menggunakan instrumen berupa tes atau soal-soal tes. Soal tes terdiri dari banyak butir tes (item) yang masing-masing mengukur satu jenis variabel.
b. Angket atau Kuesioner (Questionnaires)
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui.
Kuesioner dipakai untuk menyebut metode maupun instrument, jadi dalam menggunakan metode angket atau kuesioner instrumen yang dipakai adalah angket atau kuesioner.
c. Interviu (Interview)
Interviu yang sering juga disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukanoleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewer). Interviu digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu.
Secara fisik interviu dapat dibedakan atas interviu terstruktur dan interviu tidak terstruktur. Pada umumnya interviu terstruktur di luar negeri telah dibuat terstandar (standardized). Seperti halnya kuesioner, interviu terstruktur terdiri dari serentetan pertanyaan di mana pewawancara tinggal memberikan tanda check pada pilihan jawaban yang telah disiapkan. Interviu terstandar ini kadang-kadang disembunyikan oleh pewawancara, akan tetapi tidak sedikit pula yang diperlihatkan kepada responden, bahkan respondenlah yang dipersilakan memberikan tanda. Dalam keadaan yang terakhir maka interviu ini tidak ubahnya sebagai kuesioner saja.
d. Observasi
Orang seringkali mengartikan observasi sebagai suatu aktiva yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata. Di dalam pengertian psikologik, observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Jadi, mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap. Apa yang dikatakan ini sebenarnya adalah pengamatan langsung. Di dalam artian penelitian observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar, rekaman suara.
Mengetes adalah mengadakan pengamatan terhadap aspek kejiwaan yang diukur. Kuesioner diberikan kepada respon untuk mengamati aspek-aspek yang ingin diselidiki. Rekaman gambar dan rekaman suara sebenarnya hanyalah menyimpan kejadian untuk penundaaan observasi.
Observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yang kemudian digunakan untuk menyebut jenis observasi, yaitu:
1. Observasi non-sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan.
2. Observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan.
Pedoman observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati. Dalam proses observasi, observator (pengamat) tinggal memberikan tanda atau tally pada kolom tempat peristiwa muncul. Itulah sebabnya maka cara bekerja seperti ini disebut sistem tanda (sign system).
Sign system digunakan sebagai instrumen pengamatan situasi pengajaran sebagai sebuah potret sesuai pengajaran sebagai sebuah potret selintas (snopshot}. Instrumen tersebut berisi sederetan sub-variabel misalnya: guru menerangkan, guru menulis di papan tulis, guru bertanya kepada kelompok, guru bertanya kepada seorang anak, guru menjawab, murid berteriak, murid bertanya, dan sebagainya. Setelah pengamatan dalam satu periode tertentu, misalnya 5 menit, semua kejadian yang telah muncul dicek. Kejadian yang muncul lebih dari satu kali dalam satu periode pengamatan, hanya dicek satu kali. Dengan demikian akan diperoleh gambar tentang apa kejadian yang muncul dalam situasi pengajaran.
Dalam hal ini pengamat tidak dapat memperhatikan variabel yang terlalu banyak. Dengan demikian pada akhir pengamatan dapat disimpulkan di kelas mana partisipasi murid terjadi paling besar.
e. Skala Bertingkat (Rating) atau Rating Scale
Rating atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subjektif yang dibuat berskala. Walaupun bertingkat ini menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup memberikan informasi tertentu program atau orang. Instrumen ini dapat dengan mudah memberikan gambaran penampilan, terutama penampilan di dalam orang menjalankan tugas, yang menunjukkan frekuensi munculnya sifat-sifat.
Rating-scale harus diinterpretasikan secara hati-hati karena disamping menghasilkan gambaran yang kasar juga jawaban responden tidak begitu saja mudah dipercaya. Sehubungan dengan ini Bergman dan Siegel mendaftar hal-hal yang mempengaruhi ketidakjujuran jawaban responden yaitu: (a) persahabatan, (b) kecepatan menerka, (c) cepat memutuskan, (d) jawaban kesan pertama, (e) penampilan instrumen, (f) prasangka, (g) hallo effects, (h) kesalahan pengambilan rata-rata, (i) kemurahan hati.
Di dalam menyusun skala, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menentukan variabel skala. Apa yang ditanyakan harus apa yang dapat diamati responden. Misalnya seorang guru ditanya tentang jam kehadiran dan kepulangan kepala sekolah. Dia tidak akan dapat menjawab jika ia sendiri selalu dating siang dan pulang awal.
f. Dokumentasi
Dalam uraian tentang studi pendahuluan, telah disinggung pula bahwa sebagai objek yang diperhatikan (ditatap) dalam memperoleh informasi, kita memperhatikan tiga macam sumber, yaitu tulisan (paper), tempat (place), dan kertas atau orang (people). Dalam mengadakan penelitian yang bersumber pada tulisan inilah kita telah menggunakan metode dokumentasi.
Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.
1. Cara Menyusun Instrumen
Instumen-instrumen penelitian dalam bidang sosial umumnya dan khususnya bidang adminsitrasi yang sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu maka peneliti harus mampu membuat instrumen yang akan digunakan untuk penelitian
Titik tolak dari penyusunan instrumen adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi perasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur.
2. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data mengukur itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti karena meteran memang alat untuk mengukur panjang. meteran tersebut menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat. instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan berbagai kali untuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan data yang sama.
Instrumen-instrumen dalam ilmu sosial sudah ada yang baku, karena telah teruji validitas dan reliabilitasnya, tetapi banyak juga yang belum baku bahkan belum ada titik untuk itu maka peneliti harus mampu menyusun sendiri instrumen padan setiap penelitian dan menguji validitas dan realibilitasnya.
Instrumen yang reliabel belum tentu valid. meteran yang putus dibagian ujungnya, bila digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama tetapi selalu tidak valid. Hal ini karena disebabkan instrumen (meteran) tersebut rusak.
Penilitian yang mempunyai validitas interval, bila data yang dihasilkan merupakan fungsi dari rancangan dan instrumen yang digunakan. Instrumen tentang kepemimpinan akan menghasilkan data kepemimpinan, bukan motivasi. Penilitian yang mempunyai validitas eksternal bila, hasil penelitian dapat ditarapkan pada sampelyang lain, atau hasil penelitian itu dapat digeneralisasikan.
3. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Berikut ini dikemukakan cara pengujian viliditas dan reliabilitas instrumen yang akan di gunakan untuk penelitian.
1. Pengujian Validitas Instrumen
1. Pengujian Validitas Konstruksi (Construct Validity)
Setelah pengujian konstruksi dari ahli dan berdasarkan pengalaman empiris dan lapangan selesai, maka diteruskan dengan uji coba instrumen-instrumen tersebut dicobakan pada sampel dari mana populasi diambil.pengalaman empiris ditujukan pada pengujian validitas jumlah anggota sampel yang digunakan sekitar 30 orang.
5. Pengujian Validitas Isi (Content Validity)
Untuk instrumen yang berbentuk teks, pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan.berarti instrumen ujian tersebut tidak mempunyai validitas isi. Untuk instrumen yang akang mengukur afektifitas pelaksanaan program, maka pengujian validitas dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan isi rancangan yang telah ditetapkan.
3. Pengujian Validitas Eksternal
Validitas eksternal diuji denagn cara membandingkan (untuk mencari kesamaan) antara kriteria yang ada pada instumen dengan fakta-fakta empiris yang terjadi dilapangaan. misalnya instumen untuk mengukur kenerja sekelompok pegawai, maka kriteria kenerja pada instrumen itu dibandingkan dengan catatan-catatan dilapangan tentang kinerja pegawai yang baik.
6. Pengujian Reliabilitas Instrumen
Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stabiliti), akufalent, dan gabungan keduannya. secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan tehnik tertentu.
Contoh pengujian validitas dan reabilitas instrumen
Instrumen yang akan diuji adalah instrumen gaya kepemimpinan mengajar, seperti contoh di atas, instrumen tersebut diasumsikan telah disetujui oleh para ahli.
1. Pengujian Validitas Instrumen
2. Pengujian Reabilitas Instrumen
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta.
Djunaedi, Achmad. 2000. Pengantar: Apakah Penelitian Itu?. http://intranet.ugm.ac.id/~adjunaedi/Support/Materi/METLITI/a01metlitpengantar.pdf. Dikunjungi 3 Juni 2010.
Hempel, Carl Gustav. 2004. Pengantar Filsafat Ilmu Alam. Penerjemah Cuk Ananta Wijaya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Kerlinger, Fred N. 2000. Asas-Asas Penelitian Behavioural. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Miles, M.B. dan Huberman, A.M. 1992. Analisis Data Kualitatif : Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru. UIPress. Jakarta.
Nazir, Mohammad. 1999. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sarwono, J. 2003. Perbedaan Dasar antara Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. http://www.w3.org/TR/REChtml40. Dikunjungi 3 Juni 2010.
Sugiyono. 1999. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.
Trochim, William M. 2002. Philosophy of Research. http://trochim.humancornell.edu/derived/philosophy.html. Dikunjungi 3 Juni 2010.
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi VI. Cetakan: Ketigabelas. Rineka Cipta. Jakarta.
Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Administrasi. Cetakan: ke-15. Alfabeta. Bandung.
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantiitatif, Kualitatif dan R&D. Cetakan: Kedelapan. Alfabeta. Bandung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar